Penetrant Testing (PT), atau uji penetrant cair, adalah metode NDT untuk menemukan diskontinuitas yang terbuka ke permukaan, seperti retak dan pinhole. Cairan penetrant dioleskan ke permukaan, dibiarkan meresap ke celah, lalu ditarik keluar lagi oleh developer sehingga cacat terlihat sebagai garis atau titik berwarna.
Prinsip kerja: aksi kapiler
PT bekerja dengan aksi kapiler, sama seperti tisu yang menyerap tumpahan kopi. Gaya kapiler bekerja dua kali. Pertama, menarik penetrant masuk ke dalam cacat. Kedua, setelah sisa penetrant di permukaan dibersihkan, developer putih menarik penetrant yang terperangkap itu keluar seperti kertas penyerap. Indikasi di developer selalu terlihat lebih lebar dari cacat aslinya, sehingga cacat kecil lebih mudah dilihat.
Bahan apa yang bisa diuji?
PT bisa dipakai pada hampir semua bahan yang tidak berpori: aluminium, magnesium, kuningan, tembaga, besi cor, stainless steel, titanium, bahkan keramik, plastik dan kaca. Berbeda dengan MT, bahannya tidak perlu magnetik. Syaratnya dua: cacat harus terbuka ke permukaan, dan permukaan tidak boleh sangat berpori.
Jenis penetrant dan developer
| Klasifikasi | Pilihan |
|---|---|
| Jenis zat warna | Type I fluoresen (berpendar di bawah UV-A) · Type II visible (biasanya merah, dilihat di cahaya putih) |
| Cara membersihkan sisa penetrant | Method A water-washable · Method B post-emulsifiable lipofilik · Method C solvent-removable · Method D post-emulsifiable hidrofilik |
| Bentuk developer | Kering (serbuk) · basah larut air · basah tersuspensi air · non-aqueous (biasanya kaleng semprot) |
Penetrant fluoresen umumnya lebih sensitif daripada penetrant visible karena pendarnya memberi kontras lebih tinggi di ruang gelap.
Enam langkah dasar PT
- Pembersihan awal: hilangkan kotoran, minyak, karat, kerak, cat dan bahkan air. Hindari sandblasting atau sikat kawat, karena bisa menutup mulut cacat.
- Aplikasi penetrant: dengan semprot, kuas, celup atau tuang.
- Waktu dwell: cacat besar bisa terisi dalam 3–5 menit, sedangkan retak rapat bisa butuh lebih dari 30 menit. Permukaan harus tetap basah selama dwell.
- Pembersihan sisa penetrant: dengan air, emulsifier lalu air, atau lap kering lalu lap yang dibasahi solvent. Solvent tidak boleh disemprot langsung ke benda saat tahap ini.
- Developer dan inspeksi: oleskan developer, tunggu waktu developing, lalu periksa di cahaya putih (visible) atau di ruang gelap dengan lampu UV-A (fluoresen). Pilah indikasi menjadi palsu, non-relevan atau relevan.
- Pembersihan akhir: bersihkan sisa bahan secepatnya agar tidak memicu korosi atau mengganggu proses berikutnya.
Cacat yang bisa ditemukan
PT menemukan cacat yang terbuka ke permukaan: retak las (termasuk crater crack), porositas permukaan, undercut, cold shut pada coran, lap tempa, retak gerinda, retak perlakuan panas dan retak fatigue. Bentuk indikasi membantu identifikasi: garis tidak terputus biasanya retak atau lap, garis putus-putus menandakan cacat yang rapat, dan bulatan menandakan porositas. Cacat di bawah permukaan seperti slag dan lack of fusion di dalam las perlu dicari dengan UT atau RT.
Kelebihan dan keterbatasan
| Kelebihan | Keterbatasan |
|---|---|
| Hampir semua bahan tidak berpori, magnetik atau tidak | Hanya cacat yang terbuka ke permukaan |
| Peralatan sederhana; ada kit portable dalam kaleng semprot | Permukaan berpori atau kotor membuat hasil tidak andal |
| Bisa dipakai di berbagai tahap produksi dan perawatan | Mulut cacat yang tertutup (misalnya setelah blasting) tidak terdeteksi |
| Sensitif untuk retak halus, terutama penetrant fluoresen | Bahan kimia mudah terbakar dan perlu pembersihan akhir |
Belajar PT dari nol
Di kursus Uji Penetrant (PT) Level II, kamu belajar Type I dan II, Method A–D dan bentuk developer lewat animasi interaktif dan simulator jalur proses penetrant, ditambah buku kerja dan bank soal untuk persiapan ujian Level II. Coba Pelajaran 1 gratis: Cara Kerja Uji Penetrant.
Sumber fakta: buku kerja PT Level II, hlm. 7–35, 40–49.
ARTIKEL BERIKUTNYAApa itu Magnetic Particle Testing (MT)? Prinsip, alat dan langkahnya